Sahabat Belajar Free Download

"Sahabat Belajar bisa mendownload/mengunduh materi belajar, e-book, artikel, CD interaktif, dll yang sudah kami pelajari".

Sahabat Belajar Learning Courses

Visi Sahabat Belajar adalah " Ihlas untuk cinta anak bangsa, giat belajar dan berkarya".

Kami Selalu Berbagi dan Bersama

Kelebihan dariku adalah bagian dari kehebatan sahabatku yang memiliki kecintaan, kebersamaan, kesetiaan dan kesabaran.

Sahabat Belajar Lovers

Cinta "ilmu" cinta bangsa, Kaya "pengetahuan" kaya bangsa, Kuat "persahabatan" kuat bangsa, Lovers be The best Us.

Pages

Showing posts with label Trik Agama. Show all posts
Showing posts with label Trik Agama. Show all posts

Saturday, 27 February 2016

Perlu Dicontoh dan Diteladani.!! Persahabatan Pendiri NU dan Muhammadiyah

Master Tricks – Munculnya bibit-bibit paham radikalisme yang selalu mengatasnamakan gerakan pemurnian Islam di Indonesia, berpotensi mengganggu pilar-pilar persatuan bangsa. Kendari begitu, fenomena tersebut melahirkan hikmah tersendiri bagi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dua ormas Islam terbesar di republik ini mulai berangkulan dalam satu visi menjaga keutuhan NKRI dan bersatu membangun Negeri.

Bila menilik masa lalu, Kebersamaan NU dan Muhammadiyah sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan sebelum dua ormas Islam itu lahir di Indonesia, kedua pendirinya KH. Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan merupakan sahabat karib bahkan seperguruan dalam mempelajari dasar- ilmu Agama.

KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan dulu menimba ilmu bersama di bawah asuhan KH Saleh. Selama dua tahun mereka hidup bersama.

Keduanya adalah tokoh besar bangsa ini. Dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Nusantara. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Hasyim Asy’ari membentuk Nahdlatul Ulama (NU).

Kiai Ahmad Dahlan sangat karib dengan Kiai Hasyim As’ari. Dulu, keduanya pernah menimba ilmu dari guru yang sama, yaitu Kiai Haji Saleh Darat. Di pondok pesantren yang terletak di wilayah Semarang inilah, kedua tokoh ini bertemu.

Ahmad Dahlan kala itu berusia 16 tahun. Sementara Hasyim berusia 14 tahun. Ahmad Dahlan memanggil Haysim dengan sebutan “Adi Hasyim”. Sementara Hasyi memanggil Ahmad Dahlan dengan sebutan “Mas Darwis”, sebab, nama kecil Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis.

Di bawah bimbingan Kiai Saleh, keduanya mencecap ilmu dari kitab-kitab karya ulama besar. Mulai tasawuf, fikih, serta ilmu-ilmu lainnya. Mereka belajar di Semarang selama dua tahun. Selama itu pula keduanya konon tinggal sekamar.

Setelah dari Semarang, Ahmad Dahlan dan Hasyim menuntut ilmu ke Mekah, Arab Saudi. Keduanya mendapat referensi ulama-ulama besar dari sang guru yang dulunya juga belajar di sana.

Setelah pulang dari Saudi, Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari mengamalkan ilmu yang mereka dapat. Kiai Ahmad Dahlan kemudian mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Sementara Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mendirikan NU pada 31 Januari 1926. Kini, kedua organisasi itu menjadi wadar besar bagi umat muslim di Nusantara.

Buya Syafii Berharap Muhammadiyah dan NU Bersatu Bangun Negeri

Kini kedua Ormas Islam terbesar itu menyadari akan pentingnya kebersamaan dalam membangun bangsa agar tercipta kekuatan yang luar biasa. Mantan ketua umum Muhammadiyah Buya Syafi’i Ma’arif  dalam suatu kesempatan pernah menyinggung friksi yang pernah terjadi antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah.

“NU Muhammadiyah, dulu kita berdebat masalah khilafiyah maslah doa qunut, usolli, ziarah dan lain-lain yang itu sangat menghabiskan energi kita,” ujarnya di hadapan ribuan nahdhiyin saat itu.

Dia bersyukur saat ini friksi tersebut sudah tidak terjadi lagi, karenanya dia berharap agar para pemuda baik dari Muhammadiyah maupun NU harus bekerjasama untuk membangun bangsa ini.

“Anak muda Muhammadiyah dan NU harus saling share diskusi, kalau perlu saling buka rahasia,” ujarnya
Menurutnya saat ini yang paling penting bangsa ini harus dijaga, keutuhan persatuan harus dijaga dan sebagai umat mayoritas umat islam punya tanggung jawab yang sangat besar.

Dia menambahkan bahwa jumlah yang besar ini harus diimbangun dengan kualitas yang baik, sebab tanpa kualitas yang baik kuantitas tidak ada artinya.

Dia juga berharap Islam Nusantara yang selama ini didengungkan oleh kalangan Nahdliyin tidak hanya terbatas pada slogan saja dan harus diimplikasikan dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya Islam nusantara jangan berhenti jadi semboyan saja, Islam nusantara harus diberikan substansi.

KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari


Friday, 15 November 2013

Cara Nabi dalam Mendidik Anak

Penceramah Oleh : Muhammad Idrus Lc*

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”
(Q.S. At-Tahrim: 66)
Momen bahagia yang paling berkesan bagi sepasang pengantin baru adalah perkawinan. Tapi, coba tanyakan ke setiap pasangan suami istri yang telah mempunyai keturunan, tentang manakah yang lebih membahagiakan antara peristiwa perkawinan dan dikaruniai momongan? Tentu mereka akan serentak menjawab: “dikaruniai momongan!.


Anak adalah anugerah terindah bagi setiap orang tua. Kehadirannya selalu dinanti, tidak hanya menambah “gelar” kedua orang tua, dari yang semula hanya sebagai suami dan istri bagi pasangannya, menjadi ayah dan ibu bagi anak-anaknya. Anak, merupakan aset orang tua yang berharga, yeknisebgai tumpuan harapan di dunia dan akhir nanti, anak juga merupakan sebab diangkat kedudukan kedua orang tua ke derajat yang lebih mulia di sisi Allah. Wajarlah kalau kemudian Rasul SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak anak. “Agar aku banggakan kelak di hadapan nabi-nabi lain pada han kiamat.’’ ujarnya.  
Dalam mendidik anak-anak untuk mengantarkan mereka ke gerbang kesholihan, orang tua dapat mengambil metodelogi manusia-manusia terbaik, yang terbukti efektif menjadikan anak keturunannya menjadi orang-orang yang dicintal Allah, dan dicintai pula segenap makhluk-Nya. Moteode ini akan kita ambil dari metode para nabi dan rasul Allah, yang merupakan makhluk Allah yang terbaik dengan bersama bimbingan Tuhan yang telah terbukti berhasilannya mendidik anak-anaknya agar mengikuti jejak kesholehan orang tuanya hingga menjad penerusnya.


Adapun para nabi dan rasul Allah dalam mendidik anak-anaknya dengan jalan sebagai berikut:

1. Memilihkan Iingkungan yang baik

Nabiyullah Ibrahim As. adalah satu-satunya nabi di antara sekian banyak nabi yang bergelar “abul anbiya’ wal mursalin” (bapak para nabi dan rasul). Banyak di antara anak keturunannya yang kemudian diangkat Allah sebagai nabi dan rasul. Saat baru mendapatkan anak yang sangat dinanti-nanti kelahirannya, nabi Ibrahim As membawa bayinya ke suatu lembah, yang tidak berpenghuni dan tidak ada tanaman maupun tumbuhan yang dapat dikonsumsi. Dikisahkan oleh Allah: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menempatkan dari keturunanku di lembah yang tidak ditumbuhi tanaman. Wahai Tuhanku, yang demikian itu aku lakukan agar anak keturunanku mendirikan shalat” (Qs Ibrahim 37).

Nabi Ibrahim AS tidak menjadikan kemakmuran sebagai pertimbangan utama. Tetapi, beliau menjadikan anaknya untuk belajar menerima apa adanya sehingga bayinya itu kelak tumbuh menjadi hamba yang taat juga sebagai kriteria usia anak-anak merupakan masa emas untuk menanamkan kebaikan. Kesimpulannya para orang tua harus menciptakan lingkungan atau segala suasana yang baik yang sesuai dengan usia anak.

2. Membiasakan (istiqomah) hal-hal yang baik

Tidak mudah merubah kebiasaan, terlebih bila kebiasaan itu telah mendarah daging dan menjadi karakter. Usia anak-anak merupakan masa emas untuk menanamkan kebaikan, karena di waktu itu anak masih polos dan belum mempunyai kebiasaan yang kuat. Peluang ini sebaiknya dimanfaatkan para orang tua untuk membiasakan segala hal baik yang sesuai dengan usianya. Katakanlah misalkan, membatasj nonton TV di waktu-waktu tertentu, berkata santun, pergi ke masjid, dan membantu orang tua.

3. Memberikan keteladanan kepada anak

Setiap orang tua pasti bermimpi, bahwa anak-anaknya kelak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan moralitas dan intelektualitas yang terpuji. Tanpa mau terlebih dahulu memberikan keteladanan bagaimana menjadi orang yang diharapkan, orang tua hanya akan menuai angan. Sebab, untuk mendidik anak menjadi sholih, maka orang tua harus terlebih dahulu menjadi orang sholih pula, minimal, mampu menunjukkan gambaran di benak anaka naknya.

Tengoklah, Siapa yang ada di belakang ulama-ulama besar sekaliber Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi, dan Syaikh ibnu Taimiyah? Di belakang mereka, ada orang tua-orang tua yang hebat (sholih) yang memang pantas melahirkan anak-anak pilihan tersebut. Intinya untuk mendidik anak menjadi sholih, maka orang tua harus terlebih dahulu menjadi orang shalih terlebih dahulu.

4. Dialog dan diskusi tentang berbagai hal (musyawarah)

Dialog dan diskusi sering kali diperlukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi anak. Musyawarah harus di lakukan setiap saat apalagi saat dimana anak-anak mau terbuka kepada orang tua yang dipercaya sehngga orang tua lebih mampu mengatasi kesulitan yang tak terjangkau oleh akal pikirannya. Dengan cara ini pula, orang tua dapat member masukan danmengajarkan nilai-nilai agama yang belum diketahui anak secara bertahap, agar anak jadi mengerti mengapa dia disuruh berbuat ini dan di ilarang melakukan itu.

5. Pengawasan yang rutin

Dalam arti, sebagai orang tua dalam rangka mendidik anak-anaknya ia tidak boleh melepas dan tidak memberikan pengawasan. Bisa jadi, saat tidak diawasi orang tuanya anak-anak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya dan masa depannya. Berapa banyak orang tua yang tertipu, dengan berasumsi bahwa anak-anaknya bisa dipercaya, sehingga mereka melepas begitu saja anak-anak yang seharusnya tetap selalu dalam pengawasannya kemudian anak-anak dibiarkan berbuat apa saja yang diinginkan, bergaul dengan siapa pun yang disukai. Akan tetapi ternyata asumsi (dugaan)nya itu terbukti salah. Akibatnya marah tidak lagi bermakna. Sesal, tidak berarti apa-apa.

6. Sanksi atau hukuman
Hukuman, sekalipun terkesan angker atau keras tetapi hal itu dibutuhkan dalam mendidik anak. Adanya hukuman diperlukan, saat nasihat dan peringatan tak lagi berguna dan tidak di perhatikan bagi anak-anak. Namun hukuman yang diberikan orang tua, semestinya sebagai sebuah keterpaksaan sekaligus buah dan rasa kasih sayangnya yang dalam. Bukan sebaliknya, hukuman diberikan sebagai wujud kebencian dan luapan emosi kemarahan yang tak tertahan, apa lagi dendam. Hukuman yang keluar dari kedalaman rasa kasih sayang dan kondisi yang memaksa dapat dilihat dari seberapa besar nilai manfaat dalam pendidikan, dan seberapa kecil efek negatif yang membahayakan. Semakin besar kemampuan mendidik, dan semakin tidak berbahaya sebuah hukuman, merupakan indicator dan mengapa hukuman itu diberikan. Bukti kesungguhan orang tua dalam mendidik anak, termanifestasikan ke dalam lantunan doa-doa mereka. Hampir-hampir tidak ada waktu-waktu kecuali mustajab untuk berdoa yang akan dimanfaatkan untuk memintak  pertolongan Yang Kuasa.
7. Mendoakan di setiap kesempatan
Bukti kesungguhan orang tua dalam mendidik anak, termanifestasikan ke dalam lantunan doa-doa mereka. Hampir-hampir tidak ada waktu-waktu kecuali untuk berdoakan , sehingga akan dimanfaatkan untuk memintak pertolongan dan petunjuk kehendak Yang Kuasa. Untuk itu, orang tua akan menjaga diri dan segala hal (perkataan, perbuatan, makanan, dan pakaian) yang menghalangi terkabulnya do’a, sekaligus memenuhi semua syarat pengabulannya. Karena, terkabul atau tertolaknya do’a orang tua turut menentukan “nasib” anak-anaknya. Lalu, bagaimana mungkin sebagai orang tua kita tidak mendoakan anak-anak kita.? Padahal Rasul SAW bersabda: “Tidak ada yang dapat merubah takdir, kecuali doa!”
Semoga, kita bisa menjadi orang tua yang senantiasa menyadari kewajiban dan tanggung jawab kepada anak-anak. Dan anak-anak ikta di beri ketetapan iman dan Islam, menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Sehingga, bisa membayar kemuliaan, yang telah dianugerahkan Allah dan berhak tetap menyandang kemuliaan itu sampai pintu-pintu surga berkenan terbuka dengan keridhoan-Nya, menyambut kedatangan kita. Amin ya robbal ‘alamin.
*Penulis adalah Alumni PPTQ Nganjuk dan Universitas Ummul Quro’Makkah

Editor & Kolektor Masterkimskunjungi www.mastertrick-s.blogspot.com untuk mencari referensi lainnya terimakasih.!
Upss tinggalkan komentar atau isi buku tamu dulu ya?
Untuk e-book format Microsoft word 

https://drive.google.com/file/d/0B0iHrcqYe3WgOWxTTV9fVllGWDg/edit?usp=sharing

http://masterkimss.blogspot.com/search/label/Tausiyah%20Agama
 

Wednesday, 13 November 2013

Cara Menumbuhkan Rasa Cintai Allah Dan Rosulnya

Oleh: Habib Muhammad Sofi Aqil BSA*

“Ketahuilah bahwa ummatislam sepakat bahwa mencintai Allah dan rasulnya adalah kewajiban.(Imam Ghazali)


Allah berfirman; Katakanlah Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kau usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumnah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya  maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)
Imam ghazali berkata; “Ketahuilah bahwa ummat islam sepkat bahwa mencintai Allah dan Rasulnya adalah kewajiban.”Syaikh Sa’dy berkata; Ayat-ayat yang mulia ini adalah dalil paling agung menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, dari pada mendahulukannya atas kecintaan segala sesuatu. Juga menunjukkan ancaman keras dan kebencian sangat atas orang yang lebih mencintai salah satu dariyang telah disebutkan dari pada Allah, rasul-nya, dan jihad di jalan-nya.”
Cinta allah dan Rasul-Nya adalah bagiandari iman, allah berfirman; “Orang yang yang beriman lebih kuat cintanya kepada allah.'' (Al-Baqarah 165). Dan anas bin malik dari nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “tidak (sempurna,) iman salah seorang kalian sehingga allah dan rasulnya lebih dia cintai dari pada selainnya, dan hinga ia dilempar ke neraka lebih disukainya dari pada kembali kepada kekufuran seteh allah menyelamatkannya. Dan tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehigga saya (Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam) lebih dicintainya dari pada anaknya, orang tuanya atau manusia semuanya”. (HR. Ahmad).
Cinta kepada Allah dan Rasulnya adalah bekal untuk keselamatan hari kiamat.  Dari Anas ia berkata : sesseorang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam lalu bertanya: Wahai rasulullah, kapankah kiamat terjadi? 
Lalu nabi shallallahu ‘alaihi wasalam berdiri untuk shalat, seusai shalat Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam bertanya: “mana si penanya tentang hari kiamat tadi?”

Orang itu menjawab: saya wahai Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bertanya: “apa yang telah kau persiapkan untuknya?”

Orang itu menjawab: aku tidak menyiapkan sekian banyak shalat dan puasa untuknya, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam bersabda: “Seseorang bensama orang yang ia cintai dan engkau bersamaorang yang kau cintai.” Aku tidak mengetahui kebahagian kaum muslimin setelah islam seperti kegembiraan mereka karena hal ini. (HR. Tirmidzi)
Bagaimana Menumbuhkan Rasa Cinta
Cinta adalah perasaan yang tidak terdapat dalam kendali manusia, jadi bagaimana kita diperintah untuk melakukan perbuatan yang tidak mampu kita kuasai ini? Ketahuilah bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah wajib, akan tetapi cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Jadi, wajib bagi orang yang dihatinya tidak terdapat cinta di dalam hatinya untuk rnengetahui hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya cinta. Dan wajib untuk tidak menampakkan rasa ketidak cintanya dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.  
Adapun perkara yang rnenyebabkan tumbuhnya cinta, maka ada tiga perkara :
(1) keindahan bentuk dzat yang dicinta

(2) keindahan sifat dan perbuatannya

(3) kebaikan yang diberikan oleh yang dicinta

Tiga-tiganya ini terdapat pada Allah dan Rasul-Nya. Keindahan dzat Allah tidak diragukan lagi, apalagi bagi para ‘arifinyang telah dibukakan baginya hijab.Bahkan di surga, tidak ada kenikmatan yang melebihi dari memandang pada wajah Allah. “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada han itu berseri-seri. Kepada tuhannyalah mereka melihat”. (Al-Qiyainah: 22- 23).
Begitu juga keindahan ciptaan rasul saw, tidak ada makhluk yang lebih sempurna dari ia. Adapun keindahan sifat Allah , maka lihatlah pada keagungan penciptaan langit bumi, bergilirnya siang dan malam, lihatlah pada kesernpumaan ciptaannya besar atau kecilnya, lihatlah pada pengetahuannya yang tidak terbatas serta kebijaksanaannya yang luas. Maka, ialah Allah tuhan yang Esa, yang menciptakan dan mengatur alam semesta, tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan, tidak ada yang setara, semisal dan serupa dengannya dan ia maha mendengar lagi maha melihat. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan dia-lah yang maha mendengar dan melihat.“(QS. As-syuro: 11).
Ialah yang maha sempurna, suci darisegala kekurangan dan kecelakaan, zaman tidak berlalu padanya dan ia tidak dapat diliputi oleh tempat. Dialah awal tanpa permulaan, yang akhir tanpa ujung. “Dialah yang awal dan yang akhir yang zhahir dan yang bathin [1452]. Dan dia maha mengetahui segala sesuatu.’’ (Qs. Al- Hadid: 3). Allah lah yang mengetahui segala sesuatu, entah yang ada, yang tidak ada, atau yang akan ada, entah yang mungkin atau yang tidak mungkin. Miliknya lah langit dan bumi beserta segala isinya, dan ia berkuasa atas segala sesuatu. Ia maha pemurah lagi maha penyayang, ia maha kuasa lagi maha perkasa.

Pada diri Rasul SAW, maka lihatlah pada sifat welas asihnya kepada ummatnya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dan kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128).  Keadilan dan ketaqwaannya, kejujurannya, kebijaksanaanya, kecerdasan dan keberaniannya, dan segenap kesempurnaan akhlaknya. Allah berfirman; “Sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar di atas budi pekerti yang luhur’' (QS. Al-Qalam: 4).
Dari Sa ‘ad bin Hisyam bin ‘Amir, dia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: “Wahai ummul mu’minin, kabarkan kepada saya tentang akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Beliau menjawab: “apakah engkau membaca Al-Quran?” Aku menjawab: “tentu.

Dia berkata: “sesungguhnya akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Quran.” (HR. Al Hakim).

Adapun kebaikan yang Allah berikan kepada kita adalah berupa segala kenikmatan yang ia berikan kepada kita. Maka, ingatlah satu persatu nikmat yang ia berikan kepada manusia secara umum berupa rizqi yang datang dan langit, daratan maupun lautan.
Dan ibnu abbas ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Cintailah allah atas apa yang kalian makan dan nikrnat-nikmat-nya, dan cintailah aku karena cinta kalian kepada allah, dan clntailah ahlul baitku karena cinta kalian kepadaku.’’ (HR. At-Tirmidzi)
Nikmat mata yang melihat, kuping yang mendengar, lidah yang merasa dan lain sebagianya. Serta yang paling agung yakni nikmat iman dan islam, itu karena Allah memberikan rizqi kepada semua, namun memberikan iman hanya pada yang ia cintai saja. Dari Abdullah bin Mas’ud ra. Rasul SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah membagi akhlak kalian sebagaimana membagi rizki, dan sesungguhnya Allah azza wa jalla memberikan dunia kepada orang yang dia cinta, dan tidak dia cinta, tetapi dia tidak mengaruniai iman kecuali kepada orang yang dia cinta.’’ (HR. Al-Hakim).
Sedang kebaikan Rasul saw adalah perjuangannya yang tanpa pamrih dan penuh pengorbanan dalam menyampaikan ajaran islam, sehingga kita dapat merasakan nikmat iman dan islam. Semua ini dapat dilakukan dengan senantiasa membaca dan memahami Al-Quran, mempelajari kitab-kitab hadits dan sirah nabi Muhammad SAW.

*Penulis adalah Alumni Ma ‘Had Ribath Tarim, Yaman


Editor & Kolektor Masterkimskunjungi www.mastertrick-s.blogspot.com untuk mencari referensi lainnya terimakasih.!
Upss tinggalkan komentar atau isi buku tamu dulu ya?
Untuk e-book format Microsoft word 

http://masterkimss.blogspot.com/search/label/Tausiyah%20Agama
 

Saturday, 2 November 2013

Cara Memanagemen Waktu untuk Menata Niat

Oleh: Ibnur Rusi*
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalamkerugian, kecualj orang-orangya yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat mensihati supaya menetapi kesabaran.’’  (QS. Al-Ashr: 1-3)

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah SWT marilah senantiasa kita ucapkan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya karena kita masih diberikannya kesempatan untuk tetap berada dalam naungan Islam. Alhamdulillah, sekali lagi marilah kita haturkan kehadirat-Nya tidak lain karena Ia masih berkenan memberikan salah satu nikmat dan sekian banyaknya nikmat yang kita terima, yaitu nikmat masih diberikannya kita kesempatan untuk dapat menghirup udara segar dengan sisa umur yang ada, dan juga masih diberikannya kita kesempatan untuk dapat melakukan aktifitas sehari-hari di bumi yang kita tumpangi ini.

Alhamdulillah sholawat beserta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rosul agung, nabiyullah Muhammad SAW, karena berkat perjuangan beliau kita dapat merasakan indahnya Islam, manisnya Imandengan tuntunan yang beliau berikan. Marilah selalu kita lantunkan sholawat kepada beliau dalam bentuk nyanyian dan lantunan indah, sebagai bentuk rasa terima kasih kita karena berkat beliau, Allah SWT menjadikan kita sebaik-baiknya ummat dikarenakan beliau adalah sebaik-baiknya rosul. Shollu ‘alan nabi Muhammad…! 
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Di hari Allah yang penuh dengan keistimewaan ini marilah sejenak kita renungkan bersama, kita coba ingat satu per satu hal apa saja yang telah kita lakukan selama sam minggu yang lalu, satubulan yang lalu, atau bahkan satu tahun yang lalu. Bagaimana kita memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan kepada kita semua. Bagaimana kita mengatur waktu sehingga hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit yang kita lewati benar-benar bermanfaat bagi kita, dan juga tentunya bagi orang lain.


Sebenarnya, telah banyak kita dengar atau bahkan sering kita ucapkan nasehat-nasehat bijak yang mengatakan  bahwa “Waktu adalah emas” dan “waktu bagaikan pedang, jika kita tidak bisa megendalikannya maka waktu akan memotong kita,” dan masih banyak lagi nasehat-nasehat lain terkait dengan waktu. Bahkan Allah SWT juga menggunakan kata masa (waktu) dalam firman-Nya, “WalAshr” (demi waktu). Sunggu begitu besar kedudukan waktu, begitu besar pula peranan waktu dalam kehidupan kita. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita telah benar-benar memanfaatkan waktu yang Allah berikan kepada kita dengan baik? Bagaimana dengan keadaan waktu kita untuk hidup yang telah Allahberikan kepada kita, apakah telah benar-benar kita gunakan dengan sebaikb-baiknya?. Apakah kita telah benar-benar bemiat mengatur waktu untuk memperojeh pahala dari-Nya?
Saudaraku, marilah bersama-sama kita introspeksi diri kita masing-masing.! Manajemen waktu sangatlah penting di zaman sekarang ini. Manusia dengan berbagai macam kesibukanannya harus dapat mengatur waktu-nya dengan sebaik mungkin, teliti, dan juga cermat. Ia harus bisa berbuat adil untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ia harus bisa mengatur waktu kapan ia belajar, kapan ia mengajar, kapan ia mengaji, kapan ia bermain, dan kapan ia bersenda gurau. Janganlah kita biarkan waktu terbuang begitu saja, hanya untuk mengisi hal-hal yang tidak berguna, karena seperti yang kita ketahui betapa besar kedudukan waktu di sisi Allah SWT, terlebih lagi disisi manusia.
Pembaca budimanyang dirahmatiAlIahSWT. Setelah kita sudah berusaha untuk
mengatur waktu-waktu kita sehingga mampu dan dapat tertata rapi, runtut dan terarah, bukan berarti pekerjaan kita sudah selesai. Masih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan, salah satunya adalah bagaimana kita mengatur waktu yang telah di berikan kepada kita agar bermanfaat bagi kita dan juga orang lain. Bagaimana kita menjadwal waktu-waktu kita agar mampu mendatangkan nilai plus disisi Allah.

Cara Menata Atau Management Waktu

Caranya adalah Menata niat. Mungkin ini adalah salah satu jawaban dari apa yang kita fikirkan tadi. Seseorang yang akan memiliki nilai plus disisi Allah adalah meraka yang mampu mengatur dan menggunakan waktu mereka dengan sebaik mugkin dengan dasaran niat kebaikan (amal sholeh). Yakni mereka yang bisa mengisi waktu-waktu mereka dengan kebaikan, membantu orang tua, mengaji Al-Qur’an, belajar agama, mengikuti pengajian dan lain sebagainya. Juga mereka yang mampu menata niatatas apa yang mereka kerjakan, karena bisa saja dua orang yang sama-sama hadir dalam satu majlis ilmu memilikj nilai yang yang berbeda di sisi Allah SWT. Hal ini tidak lain karena adanya unsur niat yang berbeda diantara mereka berdua.
Seorang pelajar haruslah bisa menata niat bahwa kedatangan mereka ke sekolah adalah untuk menuntut ilmu, menerima ilmu dari guru, dan bukan hanya ingin bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya saja. Demikian pula seorang pendidik, seorang pendidik haruslah memilikiniat dan keyakinan bahwa apa yang akan ia sampaikan pasti berguna bagi peserta didiknya dan bermanfaat untuk masa depan mereka, yang tentunya juga niatan tersebut dibarengi dengan niatan Lillahi Ta’ala. Ayo marilah bersama-sama kita tata niat kita mulai sekarang juga dengan baik dan benar dalam segala tindakan dan tingkah laku kita.
Marilah kita raih nilai plus dari Allah SWT berupa pahala dengan senantiasa berbuat adil meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan cara mengatur waktu dengan sebaik-baiknya.  Akhirnya, Marilah bersama-sama kita berdo’a semoga Allah SWT senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang selalu patuh dan ta’at kepada-Nya, senantiasa bertaqwa kepada-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, mampu berbuat adil dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Semoga Allah SWT mema’afkan kita atas segala kesalahan dan kekhilafan yang kita lakukan,baik yang disengaja atau pun yang tidak kita sengaja. Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya serta memberikan umur panjang kepada kita, sehingga disisa umur kita ini kita masih bisa berbuat kebaikan dan menyesali kesalahan yang telah kita perbuat dengan Taubatan Nasu

Dan SemogaAllah SWT senantiasa dan selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat terus berada dalam koridor dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh-Nya. Dan tak lupa pula kita berdo’a semoga kita dapat bertemu dengan kekasih-kekasih-Nya, terlebih bertemu dan berdua dengan kekasih khusus-Nya, Sayyidul Anbiyaa’ Wal Mursalin, baginda nabi besar Muhammad SAW. Semoga kita diberikan kemampuan untuk bisa menatap wajah beliau dan mampu berjalan mengikuti langkah beliau. Amin Yaa Robbal ‘Alamin…!
 
*Penulis adalah santri Pondok Pesantren Miftahui Huda Malang, Jawa Timur.


Editor & Kolektor Masterkimskunjungi www.mastertrick-s.blogspot.com untuk mencari referensi lainnya terimakasih.!
Upss tinggalkan komentar atau isi buku tamu dulu ya?
Untuk e-book format Microsoft word 
http://masterkimss.blogspot.com/search/label/Tausiyah%20Agama

Prev home

Manfaatkan web ini, mohon sahabat "Like"